Senin, 18 Desember 2017

Dukung Batik Besurek Mendunia



Senangnya, diakhir tahun ini 2017 ini, ada event luar biasa yang diselenggarakan Pemerintah Kota Bengkulu, yakni Karnaval Batik Basurek Internasional. Dilaksanakan dari tanggal 4 sampai 6 Desember 2017. Dengan rangkaian kegiatan menarik, mulai dari fashion show, pameran batik basurek di Bencoolen Mall (BIM), Ngopi bareng kopi asli asal Bengkulu sebanyak 1000 cangkir bersama Walikota Bengkulu Helmi Hasan, SE di kawasan Sport Centre, Pantai Panjang, Kota Bengkulu dan puncaknya karnaval atau pawai mengenakan batik basurek yang dihadiri ribuan orang. Mulai dari pelajar, pegawai, pejabat hingga tamu/undangan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPR RI).






Menariknya lagi karnavak batik basurek kali ini dihadiri pula oleh para duta besar negara-negara sahabat Indonesia. Salah satunya duta besar Negara Iran yang sudah tiba di Bengkulu dan disambut Walikota Bengkulu H. Helmi Hasan, SE, pada Minggu (3/12). Para duta besar ini ikut juga mengenakan baju batik basurek dan bergabung mengikuti pawai batik basurek pada tanggal 6 Desember 2017. Wah jadi makin bangga dengan Batik Basurek. Kalau karnaval Batik Besurek berikutnya lebih banyak dihadiri duta besar dan turis mancanegara Batik Besurek bisa mendunia dan saya sangat mendukung itu.

Saat karnaval ribuan orang mengenakan baju batik basurek yang khas dengan tulisan huruf arab gundul beraneka warna dipadu dengan berbagai motif, seperti relung paku, burung kuau dan lainnya yang dipadu dengan Bunga Rafflesia, bunga raksasa yang tumbuh di daratan Bengkulu.
Karnaval dimeriahkan pula dengan adanya karya kreasi busana batik basurek yang indah dan megah. Ada yang membuat baju seperti putri dan raja lengkap dengan mahkota dan tongkatnya. Ada juga yang mengkreasikan barik basurek dengan bunga rafflesia raksasa yang diletakkan di punggung. Luar biasa bagus dan indahnya. Karnaval sendiri mengambil start dari eks kantor walikota Bengkulu di kawasan Simpang Lima-Jalan Suparapto-Masjid Jamik-Jalan Jend. Sudirman dan finish di Lapangan Tugu Merdeka, di depan rumah dinas Gubernur Bengkulu, yang dikena dengan sebutan Gedung Daerah, di kawasan Kampung.


Saat mengikuti Karnaval Batik Basurek, lalu melihat para siswa SMP ramai mengenakan seragam Batik Besurek, Saya pun jadi teringat waktu pertama kali kenal dan belajar membuat batik basurek. Saya sendiri mulai mengenal Batik Besurek waktu duduk di kelas 1 SMP, saya sekolah di SMPN 1 Bengkulu di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Kota Bengkulu, sekitar tahun 1994, wow sudah lama sekali ya.
Waktu saya sekolah di SMPN 1 dari tahun 1994-1997, Batik Basurek menjadi mata pelajaran muatan lokal. Mata pelajaran ini kita pelajari setiap minggunya selama 2 jam. Masing-masing kelas mendapatkan jam pelajaran berbeda dan hari berbeda pula. Dari Senin sampai Sabtu, ada yang pagi dan ada yang siang. Jadi semua siswa Di sekolah saya mendapatkan pelajaran Batik Basurek.
Dalam pelajaran Batik Basurek kami diajari langsung teori dan praktik pembuatan batik basurek. Guru muatan lokal waktu itu Ibu Lamiyah mengajarkan kami sejarah batik besurek, macam-macam motif Batik Besurek, hingga praktik menggambar motif Batik Besurek di buku gambar dan membuat langsung sapu tangan bermotif kain batik basurek. Hal yang paling berkesan saat kelas 3 kami membuat baju seragam batik basurek sendiri. Uniknya baju yang saya dan kawan-kawan buat itu digunakan sebagai seragam perpisahan saat kami lulus dari SMPN 1. Ha ha kebayangkan bagaimana rupa kami waktu itu. Bagi siswa yang melukis motif batik basureknya bagus dan rapi bahu seragam perpisahannya bagus. Nah bagi yang jelek banyak ketumpahan lilin dari canting tulisnya atau saat menggambar motifnya jelek ya baju tentu jelek he he.
Pertama kali membuat batik basurek kami sekelas dan kelas lainnya diminta membuat sapu tangan. Setiap kelompok membeli kain mori kain sekitar 1 untuk membuat batik basurek. Kain mori ini lalu potong-potong seukuran sapu tangan. Masing-masing kami lalu menggambar motif kain besurek di kain mori tersebut menggunakan pensil. Motifnya relung paku dipadu dengan Bunga Rafflesia. Saat menggambar saya dan teman2 tak menemukan kendala meski tak bisa melukis sama sekali. Hasilnya bisa dikatakan lumayan bagus, la iya tinggal mencontoh saja.
Setelah proses menggambar, kami membeli canting sendiri (alat untuk membatik). Harganya yang biasa Rp 1.000 per buah dan Rp 5 ribu per buah untuk yang bagus. Bedanya digagang pemegangnya kalau yang biasa dari kayu biasa yang dicat coklat. Kalau yang mahal gagangnya seperti diukir jadi terlihat lebih bagus. Saya sendiri memilih yang biasa saja, yang harganya murah biar dapatnya banyak he he. Waktu itu saya beli 2 canting sekaligus yang lobangnya besar dan satu lagi yang kecil.
Untuk lilin malam masing-masing kami dibagi bongkahan2 lilin malam berwarna kecoklatan per kelompok. Satu kelompok terdiri dari 2, 3 hingga 4 orang. Biasanya teman sebangku atau segeng he he. Setiap satu kelompok diberi pinjaman masing2 1 unit kompor minyak tanah kecil. Kalau diingat-ingat saat kita praktik membuat batik seperti sedang main masak-masakan.
Saat memasuki tahap mencanting mulailah terjadi hal lucu, kesal, takut bercampur jadi satu. Saat memanaskan lilin malam saja mulai banyak masalah. Lilin yang belum panas keluarnya dari canting tidak terlalu lancar, sementara lilin yang terlalu panas justru banyak mengeluarkan gelombang seperti buih jadi tidak bagus melekat di kain mori.
Mengambil lilin dari kompor yang menyala pun ada tekniknya. Kalau terlalu banyak sampai canting penuh lilinnya bisa tumpah saat mengangkatnya dari kompor atau saat menteskannya dari canting ke motif kain. Sebaliknya kalau terlalu sedikit cepat sekali habisnya, sebentar-sebentar harus memasukan lilin malam lagi dari kompor.
Saya sendiri berganti-ganti teknik dalam mengambil lilin malam dari kompor. Mulanya sedikit-sedikit. Malas harus sering-sering mengambil lilin akhirnya saya ambil sekaligus banyak. Insiden pun terjadi. Lilin malam pun tumpah di kain mori, membentuk garis lengkungan yang cukup panjang. Saya pun panik mencoba menyeka lilin malam itu, tapi apa daya lilin malam cepat keringnya. Garis itu perusak itu pun ikut menjadi motif tak diundang di sapu tangan saya.
Bukan hanya sekedar keterampilan mengambil lilin malam dari kompor ke canting. Proses menuangkan lilin malam dari canting ke motif di kain mori pun butuh kehati-hatian dan keterampilan tangan. Dalam melilin telepak tangan kiri direntangkan memegang kain mori. Sementara tangan kanan memegang canting batik. Menggerakkan canting batik mengikuti alur motif batik yang bergelung-gelung dan penuh lekukan di kain mori lumayan sulitnya. Lilin malamnya ada yang melebar dari motif yang sudah dibuat, ada yang jadinya terlalu besar motifnya dan huruf arabnya ada yang menjadi gendut atau malah jadi langsing, he he.
Setelah proses melilin selesai proses selanjutnya mewarnai. Pewarna kain batik direbus sampai mendidih. Setelah panasnya di rasa cukup lalu kain mori yang sudah diberi lilin malam dicelupkan ke bejana pewarna yang panas betulang-ulang. Dengan cara membentangkannya menggunakan sebilah rotan kecil berukuran sekitar 30-40 Cm. Saat proses pencelupan ke pewarna panas, lilin malam yang melekat pada motif kain mori perlahan-lahan terlepas. Kami hanya membuat batik besurek variasi 2 warna. Warna merah dan putih. Lilin malam yang terlepas dari motif kain mori menjadi warna putih. Sementara yang tidak diberi lilin malam menjadi warna merah. Setelah warna dirasa cukup merata kain mori lalu direndam di dalam baskom berisi air dingin lalu dicuci dan dijemur. Setelah itu tinggal disetrika di rumah sampai rapi, saat mata pelajaran muatan lokal pertemuan berikutnya sapu tangan Batik Besurek buatan masing-masing kami dinilai oleh guru pengajar, setelah dinilai sapu tangannya diberikan pada kami lagi. Saya dapat berapa ya waktu itu,  sepertinya nilai saya 7, lumayanlah jelek enggak bagus pun juga nggak.


//Membuat Baju Batik Besurek Sendiri untuk Seragam Perpisahan


Paska penilaian sapu tangan Batik Basurek karya sendiri, guru mulok menilai kami semua sudah bisa membuat Batik Besurek sendiri. Walaupun hasilnya ada yang bagus dan ada yang super jelek, ha ha.Pada pertemuan berikutnya guru Mulok mengumumkan kami akan membuat baju Batik Besurek sendiri. Baju yang kami buat itu nantinya dipakai masing-masing saat perpisahan kami usai Ebtanas..Sontak suara kami sekelas langsung riuh, saling tertawa membayangkan seperti apa rupa kami nanti memakai baju Batik Basurek buatan sendiri, berkaca dari pengalaman membuat sapu tangan batik besurek yang masih ala kadarnya. Kami nanti memakai Baju Batik Besurek buatan sendiri disaksikan kepala sekolah, para guru dan adik-adik kelas.



Pada pertemuan mata pelajaran mulok berikutnya pembuatan seragam Batik Basurek pun dimulai. Sama seperti saat membuat sapi tangan, prosesnya juga dimulai dengan menggambar motif pada kain mori. Kali ini kain morinya lebib besar dan lebih panjang untuk ukuran baju kemeja lengan pendek sekitar 1,5 meter. Motifnya juga sama huruf arab perpaduan Bunga Rafflesia, bunga khas Bengkulu yang disematkan sebagai julukan Bnegkulu denan sebutan Bumi Rafflesia atau The Land of Rafflesia.
 berpengalaman, saya dan kawan2 pun lebih lihai dalam urusan mencanting. Meski begitu tetap ada saja yang kain morinya ketumpahan lilin malam atau melukis lili malam ya terlalu lebar atau terlalu sempit. Kalau ada yang terjadi seperti ini pasti menjadi bahan tertawaan kami Karena setiap kali terjadi kesalahan dalam mencanting pasti orangnya teriak sambil kaget.
"Nah, adu, ya tumpah," kata teman yang kain morinya terkena tumpahan lilin malam disambut tawa semua teman sekelas.
"Pakailah baju tu nanti, buk buat aturan bagian yang tumph harus dibuatkan untuk baju bagian depan," usul salah seorang teman yang laki-laki sambil tertawa giring.
"Enak saja jangan di depan buk, boleh ganti kain mori yang baru saja, Buk, kami beli sendiri," timpal teman yang kain morinya ketumpahan lilin malam.
"Kain mori ya tidak boleh diganti dan harus kalian sendiri yang membatiknya. Kalau mencantingnya salah atau ada ketumpahan nanti tidak apa dibuat bukan untuk bagian depan baju," kata Bu Guru menengahi seraya menginstruksikan kami kembali fokus membatik.
Mendekati ujian evaluasi belajar nasional (Ebtanas), kami pun selesai mencanting, lalu dilanjutkan dengan proses pewarnaan. Kali ini baju yang kami buat berwarna biru putih. Setelah proses pewarnaan, pencucian, pe jemuran dan setrika. Guru muatan lokal lalu menyuruh kami menjahit kain Batik Basurek kami yang sudah jadi itu ke tukang jahit langganan masing-masing.
Setelah ujian Ebtanas selesai, tibalah saatnya perpisahan yang ditunggu-tunggu tiba. Sekitar semingguan menjelang hari H perpisahan saya tak bisa tidur, he he. Apalagi pas malam besok ya mau perpisahan. Pikiran saya kemana-mana membayangkan komentar sahabat, guru dan adik2 kelas kami saat melihat kami memakai baku batik besurek buatan sendiri.
Di hari perpisahan saya datang ke sekolah menggunakan jasa angkutan kota (angkot) warna kuning. Turun dari angkot di depan Hotel Samudera Dwinka  saya berjalan kaki menyeberang menuju SMPN 1. Di zebra cross saya pun berpasan dengan teman, lalu saling sapa melempar senyum seraya bertanya seputar baju seragam batik yang kami kenakan. Setiba di halaman sekolah suasana makin heboh karena teman-teman sesama kelas 3 termasuk sahabat saya banyak yang nongkrong2 di lapangan upacara bendera. Dari kejauhan teman saya sudah memanggil saya sambil tertawa gembira dan lucu. Setelah berpapasan kami pun saling cerita mengenang proses membatik yang telah kami lalu di sekolah hingga saling bercerita mengenai dimana dan pada penjahit siapa kami menempa seragam untuk perpisahan hari itu. Kegembiraan itu pun terus kami rasakan saat acara perpisahan berlangsung, saat kata sambutan kepala sekolah, hiburan, hingga acara resmi perpisahan selesai dan berlanjut ke sesi foto-foto bersama dewan guru dan teman-teman.



Kecintaan saya pada Batik Basurek terus tumbuh sampai saya dewasa menjadi seorang jurnalis di Bengkulu Ekspress. Saya ingat sekitar tahun 2007 waktu kami masih berkantor di tempat lama, di salah satu rumah toko (Ruko) di kawasan Jalan Jati, tak jauh dari gedung Graha Pena Bengkulu Ekspress sekarang. Kami karyawan belum punya seragam kantor. Saat istirahat siang sambil makan-makan di kantor kami karyawan yang perempuan mengobrol bagaimana kalau kami membuat seragam biar kompak dan semuanya setuju.  Obrolan pun berlanjut mau seragam apa, salah seorang diantara kami kemudian menceletuk bagaimaba kalau Batik Besurek. Seraya sambil pandang lalu tersenyum senang kami pun kompak menyatakan setuju. Belum cukup sampai disitu pembicaraan pun terus mengalir ke warna apa dan bahannya. Banyak sekali pendapat ada yang mematok warna kuning, biru dan warna merah. Ada juga yang ngomong bunga Rafflesinya harus yang besar-besar dan warnanya mesti 3 variasi biar meriah dan semarak. Tak menemukan titik temu akhirnya kami bersepakat soal warna dan bahannya ditentukan dengan langsung mengunjungi toko penjualan Batik Basurek saja nanti mana yang terlihat bagus dan disepakati itulah yang dipilih.
Eksekusi mengunjungi toko Batik Basurek pun dilakukan. Kami memilih penjualan Batik Besurek di kawasan Tanah Patah. Masing-masing kami berpencar melihat, memperhatikan batik basurel yang dipajang di toko itu seraya mengajukan pertanyaan ke pelayan toko mengenai seluk beluk Batik Basurek yang kami ingin tahu. Ternyata Batik Basurek itu beragam bahanmya ada yang katun sampai sutera. Batik Basurek pun ada yang 2 warna, 3 warna bahkan lebih. Batik Besurek pun ada yang batik cap dan ada batik tulis. Batik tulis dan yang varian 3 warna atau lebih lebih mahal harganya.
Begitu merasa menemukan.Batik Besurek yang bagus kami pun langsung menawarkan batik yang kami ke pegang ke kawan-kawan. Lama juga proses memilih Batik Besurek hampir 1 jam lamanya. Maklumlah banyak orang banyak pula pendapatnya. Bagus, tapi nggak cocok kulit saya kan agak hitam, warna merah bagus tapi coraknya terlalu menyala, batiknya bagus tapi nanti susah cari lawa. Bawahannya dan sederet alasan lain. Mesko begitu kami tak menyerah tetap senang mencari Batik Basurek yang cocok, bagus, nyaman dan enak dipandang dan di pakai.
Akhirnya salah seorang rekan, Ilna namanya, menemukan satu kain Batik Besurek warna orange kecoklatan perladuan warna hitam dan kuning dengan motif Bunga Rafflesia dan huruf arab gundul kecil-kecil. Setelah semua memperhatikan batik itu dan dirasa bagus akhirnya kami memilih batik itu sebagai seragam perdana kami. Keesokan harinya kami pun menempakan kain Batik Besurek itu ke penjahit yang lokasinya berdekatan dengan kantor Bengkulu Ekspress. Kami bersepakat model baju yang dijahit pilih saja sesuai selera masing-masing. Saya memilih baju kemeja model leher kera tegak dengan kancing bungkjs tanpa kantong. Teman saya ada yang memilih kere model sanghai, ada yang memilih 2 saku dibagian bawah seperti banyak dipakai pegawai2 pemerintahan. Katanya bukan mau meniru Pegawai Negeri Sipil (PNS), tetapi biar bisa mengantongi uang dan handphone. Proses pembuatan baju berlangsung sekitar seminggu lamanya.
Setelah baju Batik Besurek itu selesai dijahit, kami pun bersepakat memakai baju itu setiap hari jumat sama seperti pegawai pemerinth Kota Bengkulu yang menjalankan 6 hari kerja ketika itu.
Begitu kami serempak memakai baju Batik Besurek itu. Karyawan yang laki-laki rata-rata protes. "Lha mana seragam Batik Besurem untuk kami yang laki-laki. Kenapa cuma kalian perempuan yang buat."
"Kami beli pakai duit sendiri ini, sumbangan, baguskan
"Ya ngomong-ngomong dong, kasih tahu kami juga mau tidak apa-apa nuga bayar," timpal teman yang laki-laki.
Ternyata Pak Bos memperhatikan pembicaraan kami dan dia pun nimbrung, sambil mengatakan nanti akhir tahun kantor akan byat seragam untuk karyawan gratis tak perlu iuran seperti yang kami lakukan untuk membuat seragam Batik Besurek yang kami kenakan saat itu.
Semenjak itu, akhirnya Bengkulu Ekspress membuat seragam, meski bukan Batik Basurek. Seragam yang dibuat rata-rata kemeja lapangan. Pertimbangannya salah-satunya, karena rekan-rekan wartawan lebih banyak menghabiskan waktu di lapangan.

Selain seragam Batik Besurek itu, saya membeli kain Besurek dan menjahitnya sendiri. Karena sering meliput acara-acara walikota yang kadang kala harus mengenakan baju batik. Meski begitu baju seragam batik yang saya buat sama-sama dengan teman-teman perempuan itu yang paling saya sukai. Kalau ada acara penting dan acara besar biasanya saya lebih memilih memakai seragam Batik Basurek coklat itu. Seperti pada acara karnaval Batik Internasional yang diselenggarakan Pemerintah Kota Bengkulu pada 6 Desember 2017 lalu. Batik itu meski umurnya sudah hampir 10 tahun, tetapi memakainya tetap enak, nyaman dan percaya diri.
Saya memiliki tambahan baju Batik Basurek lain. Baju Batik Besurek berwarna biru yang dibagikan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bengkulu, saat acara musyawarah nasional (Munas) PWI se-Indonesia, tahun 2010. Acara puncaknya di kawasan Benteng Marlborough dihadiri langsung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan sang presiden juga mengenakan baju Batik Besurek ketika itu.
Meski sekarang saya sudah memiliki koleksi beberapa helai baju Batik Besurek, saya berencana mau membeli Baju Batik Besurek lagi untuk menghadiri acara resmi dan batik besurek yang bisa saya pakai ke undangan keluarga, ataupun teman-teman yang melangsungkan resepsi pernikahan.



 




Kecintaan saya pada Batin Basurek juga saya tularkan ke orang lain. Jadi bagusnya dan indahnya Batik Besurek tidak saya nikmati sendiri dengan hanya memakainya saja Saat ada sepupu dan keluarganya dari Kabupaten Lahat mengunjungi kami di Bengkulu. Sepupu saya Novita dan suaminya Aan saya ajak berjalan-jalan ke pusat penjualan oleh-oleh Khas Bengkulu di kawasan Anggut Atas. Setelah melihat-lihat sepupu saya memilih membeli oleh-oleh puluhan buah gantungan kunci berbahan Batik Besurek untuk keluarga dan teman-temannnya di Kabupaten Lahat. Wah, kerajinan tangan Batik Besurek suda sampai ke Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, lho. Sepupu saya pun memuji Batik Besurek, katanya Batik Besurek  warnanya dan bahannya bagus-bagus dan banyak pilihannya.
Tak sampai disitu saat acara konfrensi nasional (konkernas) PWI pada November 2017 dan Bengkulu sebagai tuan rumah, kami panitia konkernas membawa peserta konkernas se-Indonesia itu melakukan city tour ke kawasan wisata di Kota Bengkulu. Mulai dari Rumah Bung Karno dan Benteng Marlborough. Di kawasan objek ini ada penjualan souvenir Batik Besurek berupa syal, gantungan kunci hingga dompet. Banyak lho peserta Konkernas dari berbagai daerah se-Indonesia membeli pernak-pernik dari kain Batik Besurek itu. Saat kegiatan city tour peserta konkernas itu, ternyata bersamaan dengan adanya kunjungan turis mancanegara sebanyak 200 orang dari negera Perancis. Rombongan kami berpapasan dengan turis dari negara pusat mode dunia itu di Benteng Marlblrough. Mereka semuanya terlihat mengenakan syal terbuat dari Batik Besurek tergantung di leher mereka yang putih dan jenjang. Wah jadi semakin bangga dan semagat mengenalkan Batik Basurek mendukung program Pemerintah Kota Bengkulu menjadikan Batik Besurek mendunia. Kalau hal seperti ini terus digalakkan Batik Besurek menginternasional atau mendunia bukan sesuatu yang mustahil terwujud.



Hanya saja selama beberapa tahun meliput dan mengikuti kegiatan yang bersentuhan dengan Batik Besurek ada beberapa hal catatan saya. Saat ada pameran Batik Basurek bahkan di sentra penjualan Batik Basurek di kawasan Anggut Atas, umumnya Batik Besurek rata-rata hanya tersedia dalam bentuk bahan. Jarang ada dalam bentuk pakaian jadi. Kalaupun ada baju yang tersedia bahan dan modelnya kurang bagus. Jadi pengunjung enggan membelinya. Seperi saat event Bengkulu Ekspo di kawasan Sport Centre pada November 2017, minim sekali penjualan Baju Batik Besurek disana. Justru stand penjualan batik Jawa yang banyak dan paling ramai dikunjungi. Bahkan oleh warga Kota Bengkulu sendiri banyak yang membeli baju Batik Jawa di Bengkulu Ekspo tersebut, dan sayalah salah seorang diantaranya he he. Di stand Batik Jawa itu banyak dipajang baju Batik Jawa dengan aneka warna dan bahan. Bahkan ukurannya pun lengkap mulai dari ukuran s, m, l, xl, bahkan ukutan xxl pun ada. Baju Batik yang disediakan pun bermacan-macam ada daster untuk di rumah, baju untuk ke kantor bahkan ada juga baju untuk ke acara pesta pernikahan. Fantastisnya lagi harga jualnya pun tergolong murah. Baju Batik Jawa dengan aneka corak dan warna, dan jahitan yang rapi serta model kekinian hanya dijual @Rp 100 ribu per potongnya. Meski ada juga harga Rp 150 ribu hingfa Rp 300 ribu. Namun bila dibandingkan dengan harga di toko harga di stand Bengkulu Ekspo jauh lebih murah.  Saya membeli satu baju di sana Rp 100 ribu saja. Sebagai perbandingan saya pernah membeli baju batik Jawa di Mega Mall yang bahan dan modelnya hampir sama dengan banu di stand Bengkulu Ekspo itu harganya Rp 200 ribu itupun sedang ada diskon 50 persen.
Jadi saran saya sebagai pecinta Batik Besurek, hendaknya pembuatan batik besurek lebih divariasikan lagi. Mulai dari varian baju jadinya diperbanyak mulai dari baju untuk anak-anak, baju ke pesta dan baju untuk jalan-jalan. Selama ini sepengetahuan saya baju Batik Besurek jadi yang banyak dijual umumnya bati besurek kantoran. Mungkin karena aparatur sipil negara (ASN) diwajibkan mengenakan baju Batik Basurek pada hari tertentu setiap minggunya. Tetapi, mereka yang memakai baju batik bagus, umumnya membeli bahan Batik Besurek, lalu mengupahkan penjahitannya ke penjahit langganannya. Jarang yang membeli Baju Batik Besurek yang sudah dijahit langsung.
Saat acara resepsi pernikahan pun begitu. Saat acara resepsi pernikahan minim sekali orang Bengkulu yang memakai baju batik besurek, laki-laki maupun perempuan. Teman saya yang kerap terlibat mengenakan banu batik besurek saat menghadiri acara pernikahan kami saat saya tanya juga membeli bahan dan mengupahkan penjahitnya, tidak membeli baju jadi. Pengamatan saya justru kebanyakan mereka yang datang ke acara resepsi pernikahan memakai baju batik jawa. Tidak heran juga sih, menurut saya hal itu terjadi karena penjualan batik jawa di Bengkulu banyak. Di Pasar Minggu bertingkat, di Pasar Tradisional Modern (PTM), di Pasar Panorama, di Pasar Baru Koto, bahkan di Megamall dan Bencoolen Mall banyak sekali terlihat toko yang menjual Batik Jawa. Berbeda dengan batik besurek di pusat keramaian orang berbelanja fashion itu, batik basurek bisa dikatakan tidak dijual di sana.Mudah-mudahan hal ini turut diperhatikan pelaku pengrajin dan pebisnis batik besurek. Sehingga kecintaan warga Bengkulu hingga turis mancanegara terhadap Batik Besurek semakin tumbuh dan Batik Basurek dipakai pada setiap kesempatan, saat acara resmi, saat santai, jalan-jalan hingga ke acara resepsi pernikahan. (**)

Bengkulu, Minggu, 17 Desember 2017

Artikel ini untuk menjawab tantangan
#nulisserempak  dari
#bloggerbengkulu
#wonderfullbengkulu2020