Senangnya, diakhir tahun ini 2017 ini,
ada event luar biasa yang diselenggarakan Pemerintah Kota Bengkulu, yakni
Karnaval Batik Basurek Internasional. Dilaksanakan dari tanggal 4 sampai 6
Desember 2017. Dengan rangkaian kegiatan menarik, mulai dari fashion show,
pameran batik basurek di Bencoolen Mall (BIM), Ngopi bareng kopi asli asal
Bengkulu sebanyak 1000 cangkir bersama Walikota Bengkulu Helmi Hasan, SE di
kawasan Sport Centre, Pantai Panjang, Kota Bengkulu dan puncaknya karnaval atau
pawai mengenakan batik basurek yang dihadiri ribuan orang. Mulai dari pelajar,
pegawai, pejabat hingga tamu/undangan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
(DPR RI).
Menariknya
lagi karnavak batik basurek kali ini dihadiri pula oleh para duta besar
negara-negara sahabat Indonesia. Salah satunya duta besar Negara Iran yang
sudah tiba di Bengkulu dan disambut Walikota Bengkulu H. Helmi Hasan, SE, pada
Minggu (3/12). Para duta besar ini ikut juga mengenakan baju batik basurek dan
bergabung mengikuti pawai batik basurek pada tanggal 6 Desember 2017. Wah jadi
makin bangga dengan Batik Basurek. Kalau karnaval Batik Besurek berikutnya
lebih banyak dihadiri duta besar dan turis mancanegara Batik Besurek bisa
mendunia dan saya sangat mendukung itu.
Saat karnaval ribuan orang mengenakan baju batik basurek yang khas dengan tulisan huruf arab gundul beraneka warna dipadu dengan berbagai motif, seperti relung paku, burung kuau dan lainnya yang dipadu dengan Bunga Rafflesia, bunga raksasa yang tumbuh di daratan Bengkulu.
Karnaval
dimeriahkan pula dengan adanya karya kreasi busana batik basurek yang indah dan
megah. Ada yang membuat baju seperti putri dan raja lengkap dengan mahkota dan
tongkatnya. Ada juga yang mengkreasikan barik basurek dengan bunga rafflesia
raksasa yang diletakkan di punggung. Luar biasa bagus dan indahnya. Karnaval
sendiri mengambil start dari eks kantor walikota Bengkulu di kawasan Simpang
Lima-Jalan Suparapto-Masjid Jamik-Jalan Jend. Sudirman dan finish di Lapangan
Tugu Merdeka, di depan rumah dinas Gubernur Bengkulu, yang dikena dengan
sebutan Gedung Daerah, di kawasan Kampung.
Saat
mengikuti Karnaval Batik Basurek, lalu melihat para siswa SMP ramai mengenakan
seragam Batik Besurek, Saya pun jadi teringat waktu pertama kali kenal dan
belajar membuat batik basurek. Saya sendiri mulai mengenal Batik Besurek waktu
duduk di kelas 1 SMP, saya sekolah di SMPN 1 Bengkulu di kawasan Jalan Jenderal
Sudirman, Kota Bengkulu, sekitar tahun 1994, wow sudah lama sekali ya.
Waktu
saya sekolah di SMPN 1 dari tahun 1994-1997, Batik Basurek menjadi mata
pelajaran muatan lokal. Mata pelajaran ini kita pelajari setiap minggunya
selama 2 jam. Masing-masing kelas mendapatkan jam pelajaran berbeda dan hari
berbeda pula. Dari Senin sampai Sabtu, ada yang pagi dan ada yang siang. Jadi
semua siswa Di sekolah saya mendapatkan pelajaran Batik Basurek.
Dalam
pelajaran Batik Basurek kami diajari langsung teori dan praktik pembuatan batik
basurek. Guru muatan lokal waktu itu Ibu Lamiyah mengajarkan kami sejarah batik
besurek, macam-macam motif Batik Besurek, hingga praktik menggambar motif Batik
Besurek di buku gambar dan membuat langsung sapu tangan bermotif kain batik
basurek. Hal yang paling berkesan saat kelas 3 kami membuat baju seragam batik
basurek sendiri. Uniknya baju yang saya dan kawan-kawan buat itu digunakan
sebagai seragam perpisahan saat kami lulus dari SMPN 1. Ha ha kebayangkan
bagaimana rupa kami waktu itu. Bagi siswa yang melukis motif batik basureknya
bagus dan rapi bahu seragam perpisahannya bagus. Nah bagi yang jelek banyak ketumpahan
lilin dari canting tulisnya atau saat menggambar motifnya jelek ya baju tentu
jelek he he.
Pertama
kali membuat batik basurek kami sekelas dan kelas lainnya diminta membuat sapu
tangan. Setiap kelompok membeli kain mori kain sekitar 1 untuk membuat batik
basurek. Kain mori ini lalu potong-potong seukuran sapu tangan. Masing-masing
kami lalu menggambar motif kain besurek di kain mori tersebut menggunakan
pensil. Motifnya relung paku dipadu dengan Bunga Rafflesia. Saat menggambar
saya dan teman2 tak menemukan kendala meski tak bisa melukis sama sekali.
Hasilnya bisa dikatakan lumayan bagus, la iya tinggal mencontoh saja.
Setelah
proses menggambar, kami membeli canting sendiri (alat untuk membatik). Harganya
yang biasa Rp 1.000 per buah dan Rp 5 ribu per buah untuk yang bagus. Bedanya
digagang pemegangnya kalau yang biasa dari kayu biasa yang dicat coklat. Kalau
yang mahal gagangnya seperti diukir jadi terlihat lebih bagus. Saya sendiri
memilih yang biasa saja, yang harganya murah biar dapatnya banyak he he. Waktu
itu saya beli 2 canting sekaligus yang lobangnya besar dan satu lagi yang
kecil.
Untuk
lilin malam masing-masing kami dibagi bongkahan2 lilin malam berwarna
kecoklatan per kelompok. Satu kelompok terdiri dari 2, 3 hingga 4 orang.
Biasanya teman sebangku atau segeng he he. Setiap satu kelompok diberi pinjaman
masing2 1 unit kompor minyak tanah kecil. Kalau diingat-ingat saat kita praktik
membuat batik seperti sedang main masak-masakan.
Saat
memasuki tahap mencanting mulailah terjadi hal lucu, kesal, takut bercampur
jadi satu. Saat memanaskan lilin malam saja mulai banyak masalah. Lilin yang
belum panas keluarnya dari canting tidak terlalu lancar, sementara lilin yang
terlalu panas justru banyak mengeluarkan gelombang seperti buih jadi tidak bagus
melekat di kain mori.
Mengambil
lilin dari kompor yang menyala pun ada tekniknya. Kalau terlalu banyak sampai
canting penuh lilinnya bisa tumpah saat mengangkatnya dari kompor atau saat
menteskannya dari canting ke motif kain. Sebaliknya kalau terlalu sedikit cepat
sekali habisnya, sebentar-sebentar harus memasukan lilin malam lagi dari
kompor.
Saya
sendiri berganti-ganti teknik dalam mengambil lilin malam dari kompor. Mulanya
sedikit-sedikit. Malas harus sering-sering mengambil lilin akhirnya saya ambil
sekaligus banyak. Insiden pun terjadi. Lilin malam pun tumpah di kain mori,
membentuk garis lengkungan yang cukup panjang. Saya pun panik mencoba menyeka
lilin malam itu, tapi apa daya lilin malam cepat keringnya. Garis itu perusak
itu pun ikut menjadi motif tak diundang di sapu tangan saya.
Bukan
hanya sekedar keterampilan mengambil lilin malam dari kompor ke canting. Proses
menuangkan lilin malam dari canting ke motif di kain mori pun butuh
kehati-hatian dan keterampilan tangan. Dalam melilin telepak tangan kiri
direntangkan memegang kain mori. Sementara tangan kanan memegang canting batik.
Menggerakkan canting batik mengikuti alur motif batik yang bergelung-gelung dan
penuh lekukan di kain mori lumayan sulitnya. Lilin malamnya ada yang melebar
dari motif yang sudah dibuat, ada yang jadinya terlalu besar motifnya dan huruf
arabnya ada yang menjadi gendut atau malah jadi langsing, he he.
Setelah
proses melilin selesai proses selanjutnya mewarnai. Pewarna kain batik direbus
sampai mendidih. Setelah panasnya di rasa cukup lalu kain mori yang sudah
diberi lilin malam dicelupkan ke bejana pewarna yang panas betulang-ulang.
Dengan cara membentangkannya menggunakan sebilah rotan kecil berukuran sekitar
30-40 Cm. Saat proses pencelupan ke pewarna panas, lilin malam yang melekat
pada motif kain mori perlahan-lahan terlepas. Kami hanya membuat batik besurek
variasi 2 warna. Warna merah dan putih. Lilin malam yang terlepas dari motif
kain mori menjadi warna putih. Sementara yang tidak diberi lilin malam menjadi
warna merah. Setelah warna dirasa cukup merata kain mori lalu direndam di dalam
baskom berisi air dingin lalu dicuci dan dijemur. Setelah itu tinggal disetrika
di rumah sampai rapi, saat mata pelajaran muatan lokal pertemuan berikutnya
sapu tangan Batik Besurek buatan masing-masing kami dinilai oleh guru pengajar,
setelah dinilai sapu tangannya diberikan pada kami lagi. Saya dapat berapa ya
waktu itu, sepertinya nilai saya 7,
lumayanlah jelek enggak bagus pun juga nggak.
//Membuat Baju Batik Besurek Sendiri untuk Seragam Perpisahan
Paska penilaian sapu tangan Batik Basurek karya sendiri, guru mulok menilai kami semua sudah bisa membuat Batik Besurek sendiri. Walaupun hasilnya ada yang bagus dan ada yang super jelek, ha ha.Pada pertemuan berikutnya guru Mulok mengumumkan kami akan membuat baju Batik Besurek sendiri. Baju yang kami buat itu nantinya dipakai masing-masing saat perpisahan kami usai Ebtanas..Sontak suara kami sekelas langsung riuh, saling tertawa membayangkan seperti apa rupa kami nanti memakai baju Batik Basurek buatan sendiri, berkaca dari pengalaman membuat sapu tangan batik besurek yang masih ala kadarnya. Kami nanti memakai Baju Batik Besurek buatan sendiri disaksikan kepala sekolah, para guru dan adik-adik kelas.
Pada pertemuan mata pelajaran mulok berikutnya pembuatan seragam Batik Basurek pun dimulai. Sama seperti saat membuat sapi tangan, prosesnya juga dimulai dengan menggambar motif pada kain mori. Kali ini kain morinya lebib besar dan lebih panjang untuk ukuran baju kemeja lengan pendek sekitar 1,5 meter. Motifnya juga sama huruf arab perpaduan Bunga Rafflesia, bunga khas Bengkulu yang disematkan sebagai julukan Bnegkulu denan sebutan Bumi Rafflesia atau The Land of Rafflesia.
Paska penilaian sapu tangan Batik Basurek karya sendiri, guru mulok menilai kami semua sudah bisa membuat Batik Besurek sendiri. Walaupun hasilnya ada yang bagus dan ada yang super jelek, ha ha.Pada pertemuan berikutnya guru Mulok mengumumkan kami akan membuat baju Batik Besurek sendiri. Baju yang kami buat itu nantinya dipakai masing-masing saat perpisahan kami usai Ebtanas..Sontak suara kami sekelas langsung riuh, saling tertawa membayangkan seperti apa rupa kami nanti memakai baju Batik Basurek buatan sendiri, berkaca dari pengalaman membuat sapu tangan batik besurek yang masih ala kadarnya. Kami nanti memakai Baju Batik Besurek buatan sendiri disaksikan kepala sekolah, para guru dan adik-adik kelas.
Pada pertemuan mata pelajaran mulok berikutnya pembuatan seragam Batik Basurek pun dimulai. Sama seperti saat membuat sapi tangan, prosesnya juga dimulai dengan menggambar motif pada kain mori. Kali ini kain morinya lebib besar dan lebih panjang untuk ukuran baju kemeja lengan pendek sekitar 1,5 meter. Motifnya juga sama huruf arab perpaduan Bunga Rafflesia, bunga khas Bengkulu yang disematkan sebagai julukan Bnegkulu denan sebutan Bumi Rafflesia atau The Land of Rafflesia.
berpengalaman, saya dan kawan2 pun lebih lihai dalam urusan mencanting.
Meski begitu tetap ada saja yang kain morinya ketumpahan lilin malam atau
melukis lili malam ya terlalu lebar atau terlalu sempit. Kalau ada yang terjadi
seperti ini pasti menjadi bahan tertawaan kami Karena setiap kali terjadi
kesalahan dalam mencanting pasti orangnya teriak sambil kaget.
"Nah,
adu, ya tumpah," kata teman yang kain morinya terkena tumpahan lilin malam
disambut tawa semua teman sekelas.
"Pakailah
baju tu nanti, buk buat aturan bagian yang tumph harus dibuatkan untuk baju
bagian depan," usul salah seorang teman yang laki-laki sambil tertawa
giring.
"Enak
saja jangan di depan buk, boleh ganti kain mori yang baru saja, Buk, kami beli
sendiri," timpal teman yang kain morinya ketumpahan lilin malam.
"Kain
mori ya tidak boleh diganti dan harus kalian sendiri yang membatiknya. Kalau
mencantingnya salah atau ada ketumpahan nanti tidak apa dibuat bukan untuk
bagian depan baju," kata Bu Guru menengahi seraya menginstruksikan kami
kembali fokus membatik.
Mendekati
ujian evaluasi belajar nasional (Ebtanas), kami pun selesai mencanting, lalu
dilanjutkan dengan proses pewarnaan. Kali ini baju yang kami buat berwarna biru
putih. Setelah proses pewarnaan, pencucian, pe jemuran dan setrika. Guru muatan
lokal lalu menyuruh kami menjahit kain Batik Basurek kami yang sudah jadi itu
ke tukang jahit langganan masing-masing.
Setelah
ujian Ebtanas selesai, tibalah saatnya perpisahan yang ditunggu-tunggu tiba.
Sekitar semingguan menjelang hari H perpisahan saya tak bisa tidur, he he.
Apalagi pas malam besok ya mau perpisahan. Pikiran saya kemana-mana
membayangkan komentar sahabat, guru dan adik2 kelas kami saat melihat kami
memakai baku batik besurek buatan sendiri.
Di
hari perpisahan saya datang ke sekolah menggunakan jasa angkutan kota (angkot)
warna kuning. Turun dari angkot di depan Hotel Samudera Dwinka saya berjalan kaki menyeberang menuju SMPN 1.
Di zebra cross saya pun berpasan dengan teman, lalu saling sapa melempar senyum
seraya bertanya seputar baju seragam batik yang kami kenakan. Setiba di halaman
sekolah suasana makin heboh karena teman-teman sesama kelas 3 termasuk sahabat
saya banyak yang nongkrong2 di lapangan upacara bendera. Dari kejauhan teman saya
sudah memanggil saya sambil tertawa gembira dan lucu. Setelah berpapasan kami
pun saling cerita mengenang proses membatik yang telah kami lalu di sekolah
hingga saling bercerita mengenai dimana dan pada penjahit siapa kami menempa
seragam untuk perpisahan hari itu. Kegembiraan itu pun terus kami rasakan saat
acara perpisahan berlangsung, saat kata sambutan kepala sekolah, hiburan,
hingga acara resmi perpisahan selesai dan berlanjut ke sesi foto-foto bersama
dewan guru dan teman-teman.
Kecintaan
saya pada Batik Basurek terus tumbuh sampai saya dewasa menjadi seorang
jurnalis di Bengkulu Ekspress. Saya ingat sekitar tahun 2007 waktu kami masih
berkantor di tempat lama, di salah satu rumah toko (Ruko) di kawasan Jalan
Jati, tak jauh dari gedung Graha Pena Bengkulu Ekspress sekarang. Kami karyawan
belum punya seragam kantor. Saat istirahat siang sambil makan-makan di kantor
kami karyawan yang perempuan mengobrol bagaimana kalau kami membuat seragam
biar kompak dan semuanya setuju. Obrolan
pun berlanjut mau seragam apa, salah seorang diantara kami kemudian menceletuk
bagaimaba kalau Batik Besurek. Seraya sambil pandang lalu tersenyum senang kami
pun kompak menyatakan setuju. Belum cukup sampai disitu pembicaraan pun terus
mengalir ke warna apa dan bahannya. Banyak sekali pendapat ada yang mematok
warna kuning, biru dan warna merah. Ada juga yang ngomong bunga Rafflesinya
harus yang besar-besar dan warnanya mesti 3 variasi biar meriah dan semarak.
Tak menemukan titik temu akhirnya kami bersepakat soal warna dan bahannya
ditentukan dengan langsung mengunjungi toko penjualan Batik Basurek saja nanti
mana yang terlihat bagus dan disepakati itulah yang dipilih.
Eksekusi
mengunjungi toko Batik Basurek pun dilakukan. Kami memilih penjualan Batik
Besurek di kawasan Tanah Patah. Masing-masing kami berpencar melihat,
memperhatikan batik basurel yang dipajang di toko itu seraya mengajukan
pertanyaan ke pelayan toko mengenai seluk beluk Batik Basurek yang kami ingin
tahu. Ternyata Batik Basurek itu beragam bahanmya ada yang katun sampai sutera.
Batik Basurek pun ada yang 2 warna, 3 warna bahkan lebih. Batik Besurek pun ada
yang batik cap dan ada batik tulis. Batik tulis dan yang varian 3 warna atau
lebih lebih mahal harganya.
Begitu
merasa menemukan.Batik Besurek yang bagus kami pun langsung menawarkan batik
yang kami ke pegang ke kawan-kawan. Lama juga proses memilih Batik Besurek
hampir 1 jam lamanya. Maklumlah banyak orang banyak pula pendapatnya. Bagus,
tapi nggak cocok kulit saya kan agak hitam, warna merah bagus tapi coraknya
terlalu menyala, batiknya bagus tapi nanti susah cari lawa. Bawahannya dan
sederet alasan lain. Mesko begitu kami tak menyerah tetap senang mencari Batik
Basurek yang cocok, bagus, nyaman dan enak dipandang dan di pakai.
Akhirnya
salah seorang rekan, Ilna namanya, menemukan satu kain Batik Besurek warna
orange kecoklatan perladuan warna hitam dan kuning dengan motif Bunga Rafflesia
dan huruf arab gundul kecil-kecil. Setelah semua memperhatikan batik itu dan
dirasa bagus akhirnya kami memilih batik itu sebagai seragam perdana kami.
Keesokan harinya kami pun menempakan kain Batik Besurek itu ke penjahit yang
lokasinya berdekatan dengan kantor Bengkulu Ekspress. Kami bersepakat model
baju yang dijahit pilih saja sesuai selera masing-masing. Saya memilih baju
kemeja model leher kera tegak dengan kancing bungkjs tanpa kantong. Teman saya
ada yang memilih kere model sanghai, ada yang memilih 2 saku dibagian bawah
seperti banyak dipakai pegawai2 pemerintahan. Katanya bukan mau meniru Pegawai
Negeri Sipil (PNS), tetapi biar bisa mengantongi uang dan handphone. Proses
pembuatan baju berlangsung sekitar seminggu lamanya.
Setelah
baju Batik Besurek itu selesai dijahit, kami pun bersepakat memakai baju itu
setiap hari jumat sama seperti pegawai pemerinth Kota Bengkulu yang menjalankan
6 hari kerja ketika itu.
Begitu
kami serempak memakai baju Batik Besurek itu. Karyawan yang laki-laki rata-rata
protes. "Lha mana seragam Batik Besurem untuk kami yang laki-laki. Kenapa
cuma kalian perempuan yang buat."
"Kami
beli pakai duit sendiri ini, sumbangan, baguskan
"Ya
ngomong-ngomong dong, kasih tahu kami juga mau tidak apa-apa nuga bayar,"
timpal teman yang laki-laki.
Ternyata
Pak Bos memperhatikan pembicaraan kami dan dia pun nimbrung, sambil mengatakan
nanti akhir tahun kantor akan byat seragam untuk karyawan gratis tak perlu
iuran seperti yang kami lakukan untuk membuat seragam Batik Besurek yang kami
kenakan saat itu.
Semenjak
itu, akhirnya Bengkulu Ekspress membuat seragam, meski bukan Batik Basurek.
Seragam yang dibuat rata-rata kemeja lapangan. Pertimbangannya salah-satunya,
karena rekan-rekan wartawan lebih banyak menghabiskan waktu di lapangan.
Selain
seragam Batik Besurek itu, saya membeli kain Besurek dan menjahitnya sendiri.
Karena sering meliput acara-acara walikota yang kadang kala harus mengenakan
baju batik. Meski begitu baju seragam batik yang saya buat sama-sama dengan
teman-teman perempuan itu yang paling saya sukai. Kalau ada acara penting dan
acara besar biasanya saya lebih memilih memakai seragam Batik Basurek coklat
itu. Seperti pada acara karnaval Batik Internasional yang diselenggarakan
Pemerintah Kota Bengkulu pada 6 Desember 2017 lalu. Batik itu meski umurnya
sudah hampir 10 tahun, tetapi memakainya tetap enak, nyaman dan percaya diri.
Saya
memiliki tambahan baju Batik Basurek lain. Baju Batik Besurek berwarna biru
yang dibagikan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bengkulu, saat acara
musyawarah nasional (Munas) PWI se-Indonesia, tahun 2010. Acara puncaknya di
kawasan Benteng Marlborough dihadiri langsung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
dan sang presiden juga mengenakan baju Batik Besurek ketika itu.
Meski
sekarang saya sudah memiliki koleksi beberapa helai baju Batik Besurek, saya
berencana mau membeli Baju Batik Besurek lagi untuk menghadiri acara resmi dan
batik besurek yang bisa saya pakai ke undangan keluarga, ataupun teman-teman
yang melangsungkan resepsi pernikahan.
Kecintaan saya pada Batin Basurek juga saya tularkan ke orang lain. Jadi bagusnya dan indahnya Batik Besurek tidak saya nikmati sendiri dengan hanya memakainya saja Saat ada sepupu dan keluarganya dari Kabupaten Lahat mengunjungi kami di Bengkulu. Sepupu saya Novita dan suaminya Aan saya ajak berjalan-jalan ke pusat penjualan oleh-oleh Khas Bengkulu di kawasan Anggut Atas. Setelah melihat-lihat sepupu saya memilih membeli oleh-oleh puluhan buah gantungan kunci berbahan Batik Besurek untuk keluarga dan teman-temannnya di Kabupaten Lahat. Wah, kerajinan tangan Batik Besurek suda sampai ke Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, lho. Sepupu saya pun memuji Batik Besurek, katanya Batik Besurek warnanya dan bahannya bagus-bagus dan banyak pilihannya.
Tak
sampai disitu saat acara konfrensi nasional (konkernas) PWI pada November 2017
dan Bengkulu sebagai tuan rumah, kami panitia konkernas membawa peserta
konkernas se-Indonesia itu melakukan city tour ke kawasan wisata di Kota
Bengkulu. Mulai dari Rumah Bung Karno dan Benteng Marlborough. Di kawasan objek
ini ada penjualan souvenir Batik Besurek berupa syal, gantungan kunci hingga
dompet. Banyak lho peserta Konkernas dari berbagai daerah se-Indonesia membeli
pernak-pernik dari kain Batik Besurek itu. Saat kegiatan city tour peserta
konkernas itu, ternyata bersamaan dengan adanya kunjungan turis mancanegara
sebanyak 200 orang dari negera Perancis. Rombongan kami berpapasan dengan turis
dari negara pusat mode dunia itu di Benteng Marlblrough. Mereka semuanya
terlihat mengenakan syal terbuat dari Batik Besurek tergantung di leher mereka
yang putih dan jenjang. Wah jadi semakin bangga dan semagat mengenalkan Batik
Basurek mendukung program Pemerintah Kota Bengkulu menjadikan Batik Besurek
mendunia. Kalau hal seperti ini terus digalakkan Batik Besurek
menginternasional atau mendunia bukan sesuatu yang mustahil terwujud.
Hanya
saja selama beberapa tahun meliput dan mengikuti kegiatan yang bersentuhan
dengan Batik Besurek ada beberapa hal catatan saya. Saat ada pameran Batik
Basurek bahkan di sentra penjualan Batik Basurek di kawasan Anggut Atas,
umumnya Batik Besurek rata-rata hanya tersedia dalam bentuk bahan. Jarang ada
dalam bentuk pakaian jadi. Kalaupun ada baju yang tersedia bahan dan modelnya
kurang bagus. Jadi pengunjung enggan membelinya. Seperi saat event Bengkulu
Ekspo di kawasan Sport Centre pada November 2017, minim sekali penjualan Baju
Batik Besurek disana. Justru stand penjualan batik Jawa yang banyak dan paling
ramai dikunjungi. Bahkan oleh warga Kota Bengkulu sendiri banyak yang membeli
baju Batik Jawa di Bengkulu Ekspo tersebut, dan sayalah salah seorang diantaranya
he he. Di stand Batik Jawa itu banyak dipajang baju Batik Jawa dengan aneka
warna dan bahan. Bahkan ukurannya pun lengkap mulai dari ukuran s, m, l, xl,
bahkan ukutan xxl pun ada. Baju Batik yang disediakan pun bermacan-macam ada
daster untuk di rumah, baju untuk ke kantor bahkan ada juga baju untuk ke acara
pesta pernikahan. Fantastisnya lagi harga jualnya pun tergolong murah. Baju
Batik Jawa dengan aneka corak dan warna, dan jahitan yang rapi serta model
kekinian hanya dijual @Rp 100 ribu per potongnya. Meski ada juga harga Rp 150
ribu hingfa Rp 300 ribu. Namun bila dibandingkan dengan harga di toko harga di
stand Bengkulu Ekspo jauh lebih murah.
Saya membeli satu baju di sana Rp 100 ribu saja. Sebagai perbandingan
saya pernah membeli baju batik Jawa di Mega Mall yang bahan dan modelnya hampir
sama dengan banu di stand Bengkulu Ekspo itu harganya Rp 200 ribu itupun sedang
ada diskon 50 persen.
Jadi
saran saya sebagai pecinta Batik Besurek, hendaknya pembuatan batik besurek
lebih divariasikan lagi. Mulai dari varian baju jadinya diperbanyak mulai dari
baju untuk anak-anak, baju ke pesta dan baju untuk jalan-jalan. Selama ini
sepengetahuan saya baju Batik Besurek jadi yang banyak dijual umumnya bati
besurek kantoran. Mungkin karena aparatur sipil negara (ASN) diwajibkan
mengenakan baju Batik Basurek pada hari tertentu setiap minggunya. Tetapi,
mereka yang memakai baju batik bagus, umumnya membeli bahan Batik Besurek, lalu
mengupahkan penjahitannya ke penjahit langganannya. Jarang yang membeli Baju Batik
Besurek yang sudah dijahit langsung.
Saat
acara resepsi pernikahan pun begitu. Saat acara resepsi pernikahan minim sekali
orang Bengkulu yang memakai baju batik besurek, laki-laki maupun perempuan.
Teman saya yang kerap terlibat mengenakan banu batik besurek saat menghadiri
acara pernikahan kami saat saya tanya juga membeli bahan dan mengupahkan
penjahitnya, tidak membeli baju jadi. Pengamatan saya justru kebanyakan mereka
yang datang ke acara resepsi pernikahan memakai baju batik jawa. Tidak heran juga
sih, menurut saya hal itu terjadi karena penjualan batik jawa di Bengkulu
banyak. Di Pasar Minggu bertingkat, di Pasar Tradisional Modern (PTM), di Pasar
Panorama, di Pasar Baru Koto, bahkan di Megamall dan Bencoolen Mall banyak
sekali terlihat toko yang menjual Batik Jawa. Berbeda dengan batik besurek di
pusat keramaian orang berbelanja fashion itu, batik basurek bisa dikatakan
tidak dijual di sana.Mudah-mudahan hal ini turut diperhatikan pelaku pengrajin
dan pebisnis batik besurek. Sehingga kecintaan warga Bengkulu hingga turis
mancanegara terhadap Batik Besurek semakin tumbuh dan Batik Basurek dipakai
pada setiap kesempatan, saat acara resmi, saat santai, jalan-jalan hingga ke
acara resepsi pernikahan. (**)
Bengkulu,
Minggu, 17 Desember 2017
Artikel ini untuk menjawab tantangan
#nulisserempak dari
#bloggerbengkulu
#wonderfullbengkulu2020







































